By : Yamada
Entah bagaimana beratnya hidup yang dialami saat kulihat seorang ibu paruh baya duduk di pinggir jalan menunggui barang dagangannya yang tidak seberapa banyaknya. Ibu itu hanya diamdan beberapa kali meludah ke samping. Apa dia memikirakn sepinya malam atau sedang merenung kenapa dagangannya tidak selaris orang sebelah. Bahkan akupun yang sedari tadi punya perasaan iba akan dirinya tidak belanja disana. Maklumlah, aku sedang lapar dan ingin sepiring nasi goring yang tidak dijual ibu itu..
Sejenak aku teringat ibu ku di rumah yang uga berjualan dengan dagangan yang tidak seberapa juga, tapi sedikit lebih beruntun karena tidak perlu menunggu malam untuk berjualan. Apalagi harus memindahkan barang dagangan setelah selesai dan sedikit lebih laris tentunya. Paling tidak itu dari kacamataku.
Kembali lagi ke kisahku tadi..ku merasa semakin iba saat mendengar cerita kalau belakangan ini cukup sepi. Melihat yang dijual hanya air mineral, teh botol dan beberapa rokok, pikirku siapa sih yang malam-malam datang ke tempat yang gelap hanya untuk beli sebatang rokok ? Ada saja sih, tapi itu kalau yang jualan disana masih muda dan berwajah lumayan. Kalau seorang ibu paruh baya ?
Akhirnya aku pergijuga dari sana..tapi sebelumnya aku sempat berdoa semoga ada orang baik yang mau menghabisakan beberapa rupiah uangnya berbelanja.



